Monday, November 28, 2011

For Fast, Relaxing Meeting

Grand Indo is too big. Grand Indo is too complicated. I used to be confused with East Mall and West Mall. The layout of this 'grand' mall can actually be simplified, somehow. If can avoid having a meeting or shopping at Grand Indo, I'd rather to do that.


However, there are occassions that forced me to visit this place, whether I like it or not. Mostly is job related: press conference, visiting an 'ice cream' cafe from my previous employer, and guess what, thought one of my best friend's office is at Grand Indo, so she likes to invite us to have lunch there (terpaksa, hahaha). My usual question when having an appointment there: East or West? Hey, I don't have luxurious time to searching around in such big stores.


Well then ... I began to be familiar with this place, as much as I started to love Level One and a Thamrin street view from Social House. It's still quite painful when having a meeting at level 3, jauh benerrrr (or even they have level 3A, to add a complication, well, that's another story of not using number 4 like most buildings do).



My point of sharing this story is, I found a new coffee shop which location is perfecto! When we arrive at main lobby East Mall, turn right and not far from there, you will find Illy Coffee Shop on the left side. The place is cozy and not so many people walking around those areas. It's perfect for reading books or a relaxing meeting. What I like from this spot are some cute details in serving the customers. Illy Coffee itself, you know, has an undoubtful taste, no one will complain about it.


Oh by the way, when proposing a meeting in Grand Indo with the owner of one PR Consultant (see... from avoiding, now proposing, can u believe that?), she said, "Duuuhh, jangan di situ deh, aku kuper nih, nda biasa ke sana, gede banget, gak hafal....". I can feel you, but hey, don't give up. Let's have a meeting in East Mall, Illy Coffee*


*bukan iklan ya jo... not a paid article.


(written by Vera Makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)

Coffee at Fullerton, SG

Ada tiga hal yang dapat dinikmati dari secangkir kopi. Pertama, harum kopi saat penyeduhan; kedua, citarasa kopi itu sendiri; dan ketiga, paling tidak buat saya, yang tak kalah penting adalah penyajiannya.


Salah satu yang sangat saya nikmati adalah saat ketiganya menyatu di suatu pagi saat derasnya hujan menjadi pemandangan di balik kaca coffee shop Fullerton Hotel, Singapore. Pikiran pun melayang jauh hingga terbawa perahu yang terlihat menyusuri bawah jembatan Cavenagh Bridge. Di seberang terlihat beberapa orang tetap berjalan kaki melintasi bangunan tua masa Raffless. Pikiran saya pun seolah mengalami napak tilas ke ratusan tahun lalu saat Inggris masih menduduki negara tersebut.


Kopi memang memberikan dampak luar biasa bagi pikiran dan jiwa, saat raga usai menyatukan seluruh partikel kimiawi dalam tubuh setelah beberapa jam lelap di bawah sadar. Dari ketiga aspek kekuatan kopi, kali ini kenikmatan lebih kepada mata yang dimanjakan dengan sajian kopi dalam silver pot dan ambiance Fullerton yang sulit didapat dari hotel-hotel lain di Singapore. Rasa dari kopi itu pun menjadi tidak luar biasa, yang sudah tentu belum bisa mengalahkan kopi Indonesia yang memang "benar-benar kopi".

(written by Vera Makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)




Wednesday, February 09, 2011

RAHASIA KOPI PAPUA ...


Saat menghadiri Obsat (Obrolan Langsat) beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan @jeannyferrari, teman lama yang belakangan ini menaruh minat di bidang kopi. Ternyata, suami Jeanny, Edry Siswandi, sedang merintis memasarkan kopi Papua di Indonesia. Berikut adalah hasil obrolan saya dengan Jeanny... enjoy reading!




Darimana asal kopi tersebut?
Kopi diambil dari perkebunan di Pegunungan Tengah Papua, sekitar Nabire.

Brand Kopi Papua ini bernama Sombar. Artinya?
Edry yang memberikan nama Sombar, artinya tempat berteduh (shading). Biasanya teman-teman di Indonesia Timur menyebut berteduh dengan kata ‘Sombar’. Pohon kopi arabika butuh shading, biasanya yang dipakai untuk shading adalah pohon lamtorogung (pete cina) utk peneduh dan mengurangi hembusan angin (wind breaker).

Filosofi di balik pengambilan nama Sombar, kita ingin brand ini menjadi peneduh & pelindung untuk semua kopi arabika Indonesia. Tanpa ada Sombar, kopi Arabika Indonesia menjadi kurang greget hehe..

Apakah kopi ini dianggap sebagai sesuatu yang baru?
Perkebunan kopi ini sebenarnya sudah ada sejak1937, dibawa oleh misionaris.
Kopi tersebut tidak ada yang memasarkan, hingga 2009, saat Edry di Nabire mulai berkenalan dengan kopi nikmat ini. Sebelumnya, hanya diminum oleh penduduk Nabire aja.

Apa yang membuat kalian tertarik dengan penjualan kopi ini?
Awalnya ketika Edry bekerja di Aceh tahun 2007, ia sempat jalan ke Gayo. Disana ia melihat kopi Gayo industrinya maju, ekspor besar karena diminati dunia. Dari situ Edry mulai belajar tentang kopi, dan kemudian melihat bahwa kopi Indonesia banyak yang bagus dan dinikmati penduduk dunia. Sayangnya produksi kopi Indonesia rendah sekali dibandingkan dengan potensi yang ada. Inilah yang membuat Edry tertarik untuk terjun ke bisnis kopi, selain ia juga penggemar kopi.

Pada saat bekerja di Nabire, Edry berkenalan dengan kopi Pegunungan Tengah ini. Melihat pemasarannya terbatas sekali karena sulitnya transportasi, ia tertarik untuk mengembangkan penjualan. Latar belakang pengalaman Edry memang di bidang marketing & sales.

Dicoba tes produk, market study di Jakarta ternyata banyak yang senang dengan kopi ini, sambutannya bagus. Semakin semangatlah kita buat mengembangkan kopi ini.

Apa keunggulan kopi Papua?
Kopi ini organik, walaupun tidak didaftarkan untuk certified, tetapi kami sudah melihat sendiri perkebunannya yang memang masih sangat tradisional. Selain itu dari segi aroma & taste, kopi ini memiliki keunikan yang membedakan kopi Sombar Nabire dengan kopi Indonesia lain. Kopi ini sudah di-cupping juga oleh Q gradder dengan hasil yang sangat baik.

Bagaimana cara penyajiannya yang pas?
Tergantung selera. Bisa ditubruk biasa, french press, pour over, syphon, coffee maker, atau moka pot.

Apa langkah kedepan dalam mengembangkan bisnis ini?
Meningkatkan kualitas, menerapkan lebih banyak ilmu tentang roasting agar rasa & aromanya lebih mantap. Kedua, meningkatkan varian Sombar, bukan hanya dari Papua tetapi juga dari daerah-daerah lain yang kopinya enak namun kesulitan penetrasi di pasar. Kami juga ingin bisa melakukan kampanye, agar lebih banyak masyarakat Indonesia yang paham bahwa kopi nasional itu lebih bagus dari kopi impor. Kami ingin melakukan penetrasi pasar di dalam negeri (retail & cafe), tentunya juga ingin ekspor.

Bagaimana prospek bisnis kopi Sombar?
Peluang terbuka lebar, karena keunikan aroma dan citarasanya. Penyuka kopi Papua berkembang mengingat pencinta kopi sekarang bukan hanya usia mapan, tapi usia muda juga mulai banyak yang sudah menghargai kopi lokal. Untuk pasar Indonesia, peluangnya masih sangat banyak.

Dukungan apa yang dibutuhkan dari para pecinta kopi?
Kami sangat berterima kasih apabila menerima kritik membangun dan membantu memperkenalkan/rekomendasi ke orang lain (word of mouth).

Apa harapan terhadap kopi ini?
Kalau kopi ini berkembang, harapan idealisnya bisa membantu petani nasional, menciptakan lapangan kerja, sehingga para petani yang di daerah tertinggal juga bisa terbantu pendapatannya, tidak tergantung dari bantuan pemerintah.

Apakah ada pihak lain yang memasarkan kopi ini ke Jakarta?
Tidak ada, sejauh ini hanya kami.

Di kota mana saja kopi ini dipasarkan?
So far baru ada di Jakarta & Nabire. Saat ini masih dalam tahap market study, direncanakan dalam waktu dekat saluran distribusinya akan lebih banyak.

Berapa harga kopi ini?
Untuk ritel kemungkinan di sekitar harga Rp 60,000-an per pack 200 gram.

OK Jeanny dan Edry, sukses ya buat bisnis kopi Papuanya! (Pssst... saya sudah nyoba loh kopi ini... rasanya muantabzzz!!!)

(*written by Vera Makki* - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)

Saturday, January 29, 2011

Berkah Kopi dari Lombok



Awal Januari lalu saya bersama kedua anak saya dan pengasuhnya berkunjung ke Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang kami dirikan bekerjasama dengan sekolah PAUD (pendidikan anak usia dini) setempat. Berbeda dengan tahun lalu, kali ini memang si kecil, 4 tahun, saya ajak juga untuk melihat teman-temannya di pelosok desa Lombok Timur, agar ia tahu kehidupan dengan warna berbeda dari yang sehari-hari ia lihat di Jakarta.

Aktivitas pagi itu cukup padat, kami memulai perjalanan pukul 7 pagi, mengingat lokasi 4 buah TBAL tersebut terletak di wilayah terpencil Lombok. Bu Mukanah, pembina TBAL sudah siap tepat waktu di hotel dan kita pun sarapan di mobil. Sayangnya, saya tidak sempat ngopi. Hiks...

Di lokasi pertama, kami senang sekali karena anak-anak telah berkumpul di gelaran teras depan kelasnya (sebenarnya ini ruang tamu pemilik rumah yang disulap menjadi ruang belajar setiap pagi). Anak-anak terlihat asyik membaca buku dan saya sempatkan untuk membacakan satu buku untuk mereka, mengenai cara berpakaian yang baik.

Di awal pembukaan, saya bertanya, “Siapa yang sudah sarapannnn???”. Beberapa tunjuk tangan, beberapa terlihat hanya menatapi saya, beberapa geleng-geleng kepala. Saya sempat terhenyak melihat mereka yang geleng-geleng kepala, khawatir mereka tidak sempat makan bukan karena tidak berkenan (seperti anak-anak saya yang susah sarapan), namun karena tidak ada makanan yang dapat disajikan ibunya di meja makan. Beberapa detik kemudian saya langsung mengalihkan perhatian, saya pikir, kehadiran saya harus membawa keceriaan kepada anak-anak. “Untuk yang sudah sarapan, hayooo... makan apa tadi pagi?”. Anak yang lucu itu pun sanggup mengundang tawa seluruh ruangan, “Ikan Paus!!!!”. Hahaha....

Setelah selesai, kami pun beranjak menuju lokasi PAUD selanjutnya. Senangnya saya karena berbagai poster Taman Bacaan Anak Lebah bertuliskan pesan-pesan singkat seperti, “Membaca itu Menyenangkan”, “Buku Membuat Kita Pintar”, dan spanduk “Selamat Datang di Taman Bacaan Anak Lebah” yang saya kirim sebelumnya, telah terpampang rapi.

Di lokasi ketiga yang terletak di pinggir sawah luas nan hijau, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Di sana kami mengadakan pertemuan dengan para tutor dan pembina PAUD untuk berdiskusi mengenai perkembangan taman baca. Di akhir sesi saya memberikan tips singkat bagaimana menata buku-buku dan mainan donasi di lemari agar terlihat rapi dan menarik bagi anak-anak.

Kami beranjak sekitar pukul 13.00, saatnya makan siang! Namun anak-anak belum lapar karena sudah ngemil, saya dan bu Mukanah pun juga ingin segera ke lokasi taman bacaan terakhir untuk menghemat waktu. Niat saya untuk mencari kopi tertunda lagi, padahal sudah ingin sekali menikmati kopi panas yang seharusnya saya minum pagi tadi.

Akhirnya pukul 2 siang kami tiba di lokasi terakhir. Tempatnya di gang, mobil tidak dapat masuk. Kami pun menyusuri jalan setapak yang kemudian di tengahnya dekat mesjid terdapat semacam pendopo sederhana yang dijadikan taman bacaan. Angin semilir yang masuk ke pendopo, ditambah dengan ubin yang sejuk membuat kami betah lesehan di lokasi tersebut.

Yang dahsyat, di saat sedang berinteraksi dengan para tutor, datanglah rezeki secangkir kopi tubruk panas yang luar biasa nikmat. Panasnya pas, manisnya pas, kekentalannya pas!!! *senyum lebaaarrrrr*. Ternyata berkah kopi hadir di saat saya tidak mengharapkannya. What a nice surprise, Alhamdulillah (thanks to bu Mariana, mitra saya pemilik PAUD Melati).


(*written by Vera Makki* - http://kopiluwakstory.blogspot.com)

Friday, November 19, 2010

At a Glance: Petty S. Fatimah


Hey, this gorgeous lady, chief editor of the famous Femina magazine told me that she looooove coffee but not the black one. “That’s why I don’t like espresso,” she said during a luncheon at Plaza Indonesia Mal. She likes any kind of 3in1 coffee even the sachets as long as they give delicate coffee scents that make them more enjoyable to sip.

"I just don't like pure black coffee. I enjoy latte, capuccinno, I love Toraja, Makassar coffee..." and the conversation went on...

So, next time round, you know not to offer her black coffee, okay? Add more milk, only for this beautiful, super active woman ;)


(*written by Vera Makki* - http://kopiluwakstory.blogspot.com)

Monday, October 25, 2010

Kafein Meningkatkan Metabolisme, Menurunkan Berat Badan

Membaca informasi ini, siapa pun yang gila kopi (terutama perempuan) pasti langsung jingkrak-jingkrak *atau mungkin saya aja ya? ...*

Berdasarkan buku “The Miracle of Caffeine” karangan peneliti Bennett Alan Weinberg dan Bonnie K. Bealer, kafein meningkatkan laju metabolisme, dan karena itu, membakar lebih banyak kalori sehingga berat badan seseorang dapat berkurang.

Menurut peneliti Robert Conlee, Ph.D, kafein meningkatkan laju metabolisme dengan mempengaruhi kerja sistem neurotransmitter. Kafein, sebagaimana telah dibuktikan dalam berbagai penelitian, mempercepat metabolisme selama 24 jam setelah dicerna.

Empat mekanisme kerja kafein dalam menurunkan berat badan (dikutip dari buku “The Miracle of Caffeine”):

1. Menurunkan nafsu makan dan membuat kita lebih cepat kenyang, serta mempertahankan kondisi kenyang untuk kurun waktu yang lebih lama
2. Meningkatkan liposis atau pembakaran lemak
3. Meningkatkan laju metabolisme basal, serta membakar kalori alih-alih menyimpannya
4. Meningkatkan kapasitas berolahraga dan penggunaan enerji, serta jumlah lemak yang dibakar selama berolahraga (jadi tetep ya neng, kudu olahraga…)

Nah, jangan ragu untuk ngopi. Asalkan takarannya pas (tidak berlebihan), manfaatnya banyak lho, termasuk untuk urusan berat badan. Yeay!

(*written by Vera Makki* - http://kopiluwakstory.blogspot.com)

Monday, October 18, 2010

KOPI SOLONG ACEH

Kopi Solong Aceh ini nikmatnya luar biasa, terutama jika dihidangkan panas (thanks to mbak Uni Lubis yang sudah memberikan sebungkus kopi tubruk ini). Dibanding kopi lain, aroma kopi Aceh lebih harum dan kuat. Bagi penggemar kopi, menghirup aroma kopi Aceh saat diseduh sudah memberikan enerji, di saat yang bersamaan, kehangatan tersendiri. Secangkir kopi Aceh super panas sangat cocok diminum sambil membaca buku atau mengerjakan tugas yang menbutuhkan konsentrasi tinggi.

Jangan lupa apabila bertandang ke Aceh, mampir ke kedai kopi Solong. Pemiliknya adalah pak Ahmad Solong yang meracik dan menyajikan kopi dengan cara unik sejak 1974. Hanya menggunakan kopi Aceh terpilih, beliau pun menurunkan cara-cara meracik kopi yang sangat menarik sehingga menjadi tradisi tersendiri hingga kini. Penyajian kopi kemudian menjadi atraksi yang ditunggu-tunggu bagi para pengunjung kedai.

Penasaran? Ke Aceh yuk!

(*written by Vera Makki* - http://kopiluwakstory.blogspot.com)

Sunday, October 17, 2010

Manfaat Kebiasaan Minum Kopi

Buat saya yang sudah minum kopi sejak kelas 3 SD (umur 8 tahun), manfaat yang sudah pasti dirasakan adalah rasa nyaman. As long as I remember, pertama kali diperkenalkan dengan kopi adalah saat makan buah alpukat yang diatasnya diberikan beberapa sendok air kopi tubruk dan taburan gula oleh ibu saya. Sejak saat itu, terutama di masa-masa kuliah, kopi sudah menjadi keseharian saya di pagi atau malam hari. Takarannya tentu saya atur (walaupun gila kopi), since anything that is ‘too much’ is not good for us ;)


Pro dan kontra seputar kopi sudah banyak dibahas. Daripada pusing mikir kontra-nya, di bawah ini adalah manfaat kebiasaan minum kopi, beberapa diantaranya saya juga baru tau:

1. Mengurangi risiko pengidapan diabetes
Seseorang yang minum kopi lebih dari 6 cangkir sehari berisiko rendah terserang diabetes dibandingkan dengan orang yang tidak minum kopi sama sekali. Inilah kesimpulan dari sebuah riset skala besar yang dilakukan terhadap 80ribu orang selama 18 tahun di Amerika Serikat

2. Kafein mengurangi derita sakit kepala
Sebuah penelitian menemukan bahwa kafein yang terdapat dalam kopi atau the (dalam jumlah tertentu) sanggup membantu mengobati sakit kepala. Seimur Diamond, M.D. dari Chicago’s Diamond Headache Clinic, penderita migren dalam kategori ringan dapat disembuhkan dengan secangkir kopi pekat. Jadi sebelum minum obat, coba sembuhkan sakit kepala dulu dengan minuman berkafein (ini yang ibu saya sering lakukan, “Pusing, minum kopi dulu deh mama…’)

3. Kafein membantu kita untuk bisa berpikir lebih cepat
Coba konsumsi teh atau kopi 15/30menit sebelum wawancara atau presentasi di kantor, hasilnya mungkin akan cukup lumayan karena kafein yang terdapat dalam kopi atau teh terbukti mampu memberi ‘sinyal’ pada otak untuk lebih cepat merespon dan dengan tangkas mengolah memori pada otak

4. Kafein dapat membuat badan tidak cepat lelah dan bisa melakukan aktifitas fisik lebih lama. Hal ini diperkirakan karena kafein menbuat ‘bahan bakar’ yang dipakai otot lebih lama

5. Kafein bisa meningkatkan rasa riang, membuat kita merasa lebih segar dan enerjik

6. Kafein dapat menangkal radikal bebas dan menghancurkan molekul yang dapat merusak sel DNA

Sumber diambil dari www.detikhealth.com yang disadur oleh Indriani dalam buku terbitan Gramedia berjudul ‘100 Resep Cold Coffee: for Coffee Lovers’.

(*written by Vera Makki* - http://kopiluwakstory.blogspot.com )

Thursday, October 07, 2010

One Fine Morning at Citos


Sudah cukup lama saya tidak ke Citos (Cilandak Town Square) di pagi hari. Janjian bertemu dengan seorang rekan pukul 8am, awalnya saya tidak menyebutkan lokasi detil tempat bertemu. Saya pikir, kita lihat on the spot, mana tempat yang paling enak untuk diskusi (pastinya yang sudah buka, ada wifi, ada colokan).


Setibanya di Citos, awalnya supir saya sempat bingung karena pintu masuk masih ditutup oleh security yang standby di depannya. Ternyata, tanpa saya tahu juga mengapa, ia hanya membuka tali pengaman apabila ada mobil yang benar-benar ingin masuk ke Citos (gak repot ya pak?)


Setibanya di Citos, Dome Cafe masih tutup. Awalnya saya ingin ke Coffee Bean and Tea Leaf, namun belum buka, masih gelap, petugasnya masih mengepel lantai. Too bad, I already thought of its breakfast combo. Satu outlet yang memang sudah terang benderang dengan beberapa orang di dalamnya sudah asyik baca koran atau berkutat dengan laptopnya adalah... Starbucks. Juara deh emang!


To be fair to other coffee shops, saya pun menengok sebentar ke lorong untuk melihat tempat mana lagi yang bisa dikunjungi pagi ini... dan saya pun melihat JCo sudah beroperasi. Namun akhirnya pilihan saya kembali ke Starbucks, walaupun saat masuk, AC nya lumayan dingin. Langsung saya cari tempat duduk sesuai kriteria: dekat colokan.


Starbucks pintar juga, di ruangan yang dingin ini... pilihan tepat adalah menyeduh kopi panas dan menghangatkan badan dengan pilihan sarapan pagi yang yummy. Pilihan saya jatuh ke Hot Latte original (tanpa tambahan flavour apapun) plus blueberry muffin (yang dihangatkan + extra 2 margarine). Barista di sini helpful, proactive, charming dan handal (berbeda dengan yang saya kunjungi dua hari lalu di Kemang Village).


A chat with my friend went well ... my body got warm... a great Friday morning, I had. Blessed. (*written by Vera Makki* - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)

Wednesday, January 20, 2010

From New Orleans with Love

Selamat Tahun Baru! Ih... udah tanggal berapa ini? kok baru tahun baruan sekarang? :) saya baru sadar terakhir mereview kopi di bulan September lalu, sehingga perkenankan saya mengucapkan selamat tahun baru untuk para pecinta kopi melalui site ini.

Akhir pekan lalu saya 'girls nite out' dengan puteri saya, 6 tahun, berdua saja. Kita ke Blitz Teraskota dan nonton 'The Princess and the frog'. Film ini pas kita tonton berdua karena setting film ini mengantarkan saya ke lima tahun silam saat liburan ke New Orleans, LA - dimana saat itu puteri saya berusia hampir 1 tahun. We had a wonderful memory towards this city, especially for its one of a kind coffee.

New Orleans terkenal dengan kopinya yang luar biasa enak: Cafe Au Lait. Tempat nongkrong yang terkenal di sana adalah Cafe du Monde (http://www.cafedumonde.com/coffee.html). Walau punya beberapa outlet, tempat yang paling oke adalah yang terletak di Decatur Street, French Market. Di tempat yang tak pernah sepi ini, kita dapat melihat pejalan kaki lalu lalang dan menikmati alunan jazz gratis a la Louis Armstrong yang dimainkan oleh seniman di pinggir taman. Dari tempat terbuka ini, kita juga dapat merasakan suasana di masa kolonial melalui arsitektur gedung-gedung cantik perpaduan gaya Spanyol dan Perancis.

Cafe Au Lait, walaupun namanya telah dipakai oleh beberapa coffee shop di Indonesia, namun rasanya belum ada yang sanggup menyamai kopi ini (jangan salahkan saya kalau saat mencoba Cafe Au Lait di beberapa tempat di Jakarta, saya masih menyebutnya 'kopi abal-abal'). Instruksi pembuatan kopi ini sesungguhnya gampang banget: 1/2 kopi panas + 1/2 susu panas. Tapiii... kok udah dicoba gak ada yang bisa nyamain rasanya ya... pasti ada additional secret ingredients deh (and I know what it is!)

Cafe Au Lait (baca: o le) terbuat dari kopi hitam (dark roasted) asal Perancis dan Chicory, yaitu akar tanaman endive semacam lettuce. Akar ini dibakar dan digiling, untuk kemudian dicampur bersama kopi hitam untuk menambah kekentalan dan rasa pada kopi, sehingga tidak terlalu pahit dan encer.

Nah pasangan Cafe Au Lait yang pas adalah beignet (baca: be nye) yaitu semacam donat namun berbentuk persegi empat yang digoreng panas hingga mengembang dan setelahnya ditaburi gula bubuk (powdered sugar) di atasnya. Satu piring berisi tiga buah. Rasanya yummy bangetttt!!!

Nah yang seru nih, sepulang dari New Orleans, saya pun bekerja part time sebagai manager Cafe khas New Orleans yang menyajikan Cafe Au Lait di Houston, TX saat saya sekolah di sana. Lumayan, sehari dapat US$75 + tips + Cafe Au Lait dan beignet gratisan ... sesekali saya pun yang harus mengolah kopi tersebut dan bahkan menggoreng beignet. Jadi tau nih rahasianya...

Nonton 'The Princess and the frog', selain ceritanya lucu, pikiran saya pun melayang kembali ke masa-masa indah tersebut. Jadi kangen banget sama Cafe Au Lait nya, apalagi beignetnya (ini sedap banget loh dimakan saat musim hujan seperti sekarang ini). Sayangnya... bahan-bahan dasar pembuat beignet dan kopi ini gak ada di Indonesia. Jadi susah bereksperimen. Sudah pernah coba, yang ada, rasanya seperti kue bantal. Hahaha... (*written by vera makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)




Sunday, September 20, 2009

Another Great Coffee in Makassar

Namanya warung kopi Hai Hong. Jangan membayangkan warung ini terletak di lokasi strategis. Enggak banget, justru saya menemukannya saat potong jalan dari warung kopi Phoenam menuju hotel di Losari. Warung ini terletak di gang jalan sempit.

Saat melewati warung ini, saya langsung tertarik dengan eksteriornya yang dutch style. Tempo doeloe banget! Pemilihan cat temboknya juga keren, orange. Di dalamnya, warung dibagi ke dalam dua bagian, bagian pertama menjual berbagai snack khas Makassar, di bagian kedua, terdapat beberapa meja bundar untuk minum kopi. Dibanding Phoenam, tempat ini lebih enak buat nongkrong berjam-jam. Tidak ada AC, namun uniknya, tempat ini adem dan sangat nyaman, apalagi hanya diberi kipas di atasnya.

Saya pun diberitahu gadis yang berjualan (pd banget ya saya bilang gadis???), bahwa pemiliknya sedang berada di situ (ia pun menunjuk seseorang yang konon adalah pemilik warung Hai Hong). Bapak ini pun berjalan ke arah saya, muka lempeng, sepertinya keturunan Chinese, dan hanya menggunakan kaos oblong putih + celana pendek hitam + sendal jepit. Saat saya tersenyum padanya, teman-teman si bapak yang sedang asyik ngopi pun langsung menggoda sang bapak 'Ini nih yang punya toko, foto dong dia-nya'. Bapaknya pun malu-malu sambil menampik. Ternyata eh ternyata... gadis yang tadi iseng nunjuk2x pemilik toko itu adalah anaknya. Dan yang menyiapkan kopi saya adalah ibunya. Lucu juga ya... suasana akrab dan kehangatan di antara pemilik, keluarga dan pengunjung-pengunjungnya langsung bisa saya rasakan saat itu.
Nah akhirnya, sesuai permintaan teman-teman si bapak, keluar deh hasil jepretan foto ini. Coba cari... hayooo, mana yang pemilik warkop tersebut? :)
Oh btw, akhirnya saya pun memesan kopi susu dingin. Sekedar ingin membandingkan dengan Phoenam. Rasanya sedikit berbeda dengan Phoenam, yang pasti dua-duanya enak. Dan yang pastinya juga, kopi dingin ini rasanya gak kalah dengan ice coffee yang dijual di mal-mal Jakarta. Bedanya, kopi ini terasa unik khas Sulawesi dan ada sedikit rasa vanila yang membuat kopi ini lebih harum dan rasanya sedikit manis.

Ngomong-ngomong, ada cerita kocak juga nih. Karena sore harus mengejar pesawat kembali ke Jakarta, kopi yang saya pesan tersebut pun dengan terpaksa tidak bisa dinikmati 'on the spot', tetapi harus saya bawa pulang. Nah, forget about a proper cup, lid and straw - kopi ku itu, dibawanya bener2x kayak jaman SD dulu - minuman dimasukkan ke kantong plastik, diiket pake karet gelang dimana sedotannya bener2x terjepit keras, sehingga tidak bisa diminum dengan lancar. Hahaha...
Cita-cita: suatu hari bisa ke sana pagi atau sore. Spend 2-3 hours of reading books and enjoy his coffee. (*written by vera makki* - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)







One Day in Makassar - Phoenam

Warung Kopi yang satu ini emang dahsyat! Phoenam coffee has spreaded its wing by opening new outlets at some areas including mal, but the ambiance remains different when we're going to its original place in a simple 'ruko' with just ordinary guests.

I went there in the morning, and at the moment I got out from my car, I could sensed strong coffee fragrant that increased my mood without any delays (Padahal masih di lapangan parkirnya bo!) Well, entering the store, there were couple of small tables and several guests who looked like having frequent breakfast meeting with close friends. Feels that the place was warm welcoming us.

My Makassar's cousin warned me to drink coffee with milk otherwise my heart will beat harder just in case am one of those people who are not really a friend of caffeine. Then I followed.
The moment I sip the coffee with milk, my God, it taste soooooo greatttt! Yes, it was very strong, but they could mix it with milk just right. My husband drank it with rare egg to boost energy. (can I say yuck!!! ????). Kali-kali aja pada mau nyoba.



One thing for sure is that, you need to have extra time when having this activity, and preferably in the morning. Paling enak 'nyeruput' kopi ini sedikit-sedikit sambil ngobrol. I don't know exactly the caffeine level of this coffee, but by experience, I can tell it's pretty strong in which you want to drink it slowly (plus, on the right moment, with the right companions.)


And hey, can't believe the price, it's only Rp.11rb. Worth it (*written by vera makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com)




Monday, July 06, 2009

The new coffee at Bakmi GM

Who doesn't like Bakmi GM? I'm a big fan of Bakmi GM since I was a teenager. Recently it started to expand its menu collection by offering bubble coffee. Sadly to say, they need to improve the taste, it's not worth the expensive price nor the flavour. I tried the coffee at Bakmi GM Mal Ambassador while having a small meeting. We continued the meeting at the office, I was decided to change the coffee with Pak Eman's. Better I pay pak Eman the same amount of money rather than buying it at Bakmi GM. No need to think twice on that.



I hope Bakmi GM improves its quality of coffee. I believe it won't be too difficult. Just meeting the standard of good coffee will be ok at this stage, at least not offering low quality of coffee as it's not acceptable for a big brand like Bakmi GM. Awaiting... (*written by vera makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)


Kopi Pak Eman



It's not his responsibility to make us coffees everyday. With that in mind, I always made my own coffee at the pantry with no good standard of quality. Well, sometimes it's good, sometimes it's too bitter, sometimes it's just ok, sometimes I just left it at the pantry for tasting a very low quality coffee of my own creation.

One day I was extremely busy as for the very first time I asked our beloved Pak Eman to make me a cup of coffee. Hasilnya dahsyat beratttzzz. He only mix sugar, Nescafe and creamer. The power of composition & mixture works! And... he did it constantly well.
Since then, I frequently ask his favour to provide the drink out of his daily activities. It's really soothing at the same time energizing everytime I sip the coffee first time: hot, fresh, manisnya pas, kentalnya pas, rasanya passs buanggetttt!.

The other day, I was extremely low batt he noticed, "Bu, saya buatin kopi tubruk ya..". Dan memang rasanya jauh lebih gokil! Rasanya seperti benar-benar sedang berada di kedai kopi pinggir jalan, pagi-pagi menghirup udara di luar kota dan siap untuk nge-gas lagi (yes, I'm a bit imagining myself as a truck driver!).


Pak Eman, OB kantor, emang jagoan bikin kopi, mau kopi tubruk atau kopi biasa. Tapi memang buat saya, harus pakai susu full cream (preferred, rather than creamer). Have to balance a healthy life, somehow... (*written by vera makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com)


Saturday, June 27, 2009

Caramel Macchiato

A perfect coffee can be a perfect start for your morning in the office, especially if you feel a bit slow but having so many things to be done in the end of the week (Fri or perhaps Wed?).

Regular hot coffee latte or hot cappucino might not be the best solution (in fact, its soothing effect will even slower your day). I tried Iced Caramel Macchiato the other day for my morning (upsized from tall to grande, thanks to BCA).

What I like about this beverage is firstly the presentation of two layer of the signatured expresso and milk on top of it, plus a buttery caramel sauce (it's only 190 cals for this 16oz coffee, no worries la ya...).

The expresso really make it distictive with vanila flavour, and does energize, not only my morning, but also the whole day. I had 3 meetings at 10am, 1pm and 3pm, all of which accompanied by this grande coffee (not three cups, only by this one cup!)

Nice combination:
Try its breakfast selection, hot chicken sandwich with apple, raisin and spinach. Despite of its large portion (around 8x4.5cm), it's considered healthy for having abundant spinach, little square cheese on top of the bread, sliced of sweet apple and raisins spreaded randomly inside. Yummy!!!!
(*written by vera makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com)

Cappucino Blast



This is one of my favorite drink, coming from my children's fav ice cream, baskin robbins. Although a bit expensive, cappucino blast offers a mouthwatering coffee blended with its vanila ice cream. Personally I believed there are two things that make this coffee strikes your palate. First, the coffee powder it has. Second, the classic vanila ice cream found in 1945. Perfect blend!

I've ever tried to mix the blast with another flavour, which was the most fav and sought after jamaica almond fudge. Don't ever try. Gak keruan rasanya :)
Sometimes I'm unsure whether it can be called a coffee, since the flavour is so much into vanila and very little of caffeine (but the taste is so damn good!). Positively, perhaps that's the reason why I have no fear to share the drink with my 6 and 2.5 y.o children. Bukan kopi tubruk, gak papa dong...
At the end of the day, let's not think of it too hard (this is special case).
Enjoy the fresh cappucino blast! (*written by vera makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)





Friday, June 26, 2009

Strappuccino

Coffee lovers who want to play a bit with their tongue may try this new item Strawpuccino by Tamani. It's made by one shot expresso with one scoop strawberry ice cream, plus to minimize guilty feeling of this guilty pleasure, it comes with a strawberry fruit to balance your healthy intake, haha.


The coffee comes with additional sugar syrup but I believe that it will be too much since the ice cream contains hi-sugar already. Better not put additional syrup on it.



Taste is good, the flavour of the coffee remains unexpectedly strong (I thought it's gonna be too sweet). In fact, it leaves a bit bitter in my mouth (which is good) and that's probably due to the quality of the coffee itself. Tamani just recently changes the coffee supplier from Illy to d'angelo from Italy (http://www.caffedangelo.com/)



It's quite worth the price of Rp. 22.900,-
(*written by vera makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)


Tuesday, November 29, 2005


Biji Kopi Luwak - make sure you get the original one! Only from Indonesia ...
(Courtesy picture by Dr. Marcone)

Don't worry, it is safe to drink Kopi Luwak!

Elvera N. Makki, Contributor/Houston, Texas
The Jakarta Post, Features News - Friday, February 18, 2005

Do you dare drinking Kopi Luwak, a coffee which beans are coming out of Luwak's feces? Is it safe enough for your stomach?

"Yes, it is" said Adjunct Professor Massimo Marcone, a food scientist from University of Guelp, Ontario, Canada, "although the beans has passed through luwak's digestive system, my test shows that the counts of bacteria are lower on Kopi Luwak than on regular coffee. A strange finding but one that has been subjected to a repeated battery of scientific tests." he added.

Marcone has been studied about Kopi Luwak for two years. He traveled to Indonesia in 2003 and came back about a month a go for additional research.

“As a food scientist, I’m skeptical that anything being in contact with feces is safe,” said Marcone. “But tests revealed that the Kopi Luwak beans had negligible amounts of enteric (pathogenic) organisms associated with feces.”

In fact, the luwak beans on the market are quite clean. The local Indonesian collecting the beans perform an extensively wash under running water after collection, which dislodges bacteria.

He also analyzed that the “cherry,” or endocarp surrounding the bean, was not completely digested by the Luwak; hence, it must be removed during processing. "This likely leads to a more thorough washing process."

Including on his research was whether or not passing through the gastrointestinal (GI) tract of the Luwak was in fact affecting the flavor of the beans, making it uniquely different from the regular ones.

So together with other members of his department, he completed a series of tests on the Kopi Luwak beans and compared them with Columbian beans, which were used as a control.
First, they examined if there was any color differences between unroasted samples of the two beans. Using a colorimeter – an instrument that detects different colors – they found that the Kopi Luwak beans had more red and yellow tones, whereas the control beans were more greenish in color.

Then, the surfaces of the two beans were examined using a scanning electron microscope. The Kopi Luwak beans were found to be smoother than the control, indicating that the gastric acids and/or enzymes of the Luwak were exfoliating the surface of the bean, explained Marcone.

Pitting was also observed on the surface, and the next step was to determine if the acids and enzymes were actually penetrating the Kopi Luwak beans, affecting them in some way.

Electrophoresis – a method that “fingerprints” proteins – was used to determine differences in the protein content of Kopi Luwak and control beans. The Kopi Luwak beans were found to be lower in total protein, meaning that proteins were partially broken down and leached out during their travel in GI tract of the Luwak.

This has the potential to affect the flavor and aroma of the beans because as we may all aware that proteins are responsible for much of the flavor, particularly bitterness. Since Kopi Luwak beans have less protein, they may produce a less bitter coffee, which for some people has made it a premium taste.

Analysis of the volatile compounds that also responsible for flavor and aroma also showed that they were significantly different than the control, further indicating the potential for Kopi Luwak coffee having a different flavor than ordinary coffee.

It’s also believed that fermentation process inside the luwak's digestive system could give the coffee a unique flavor, “More tests need to be completed, though, to determine if in fact a flavor difference is occurring.”

In the coffee industry, wet processed or fermented coffees are known to have superior flavor to dry-processed coffee, “When coffee cherries are processed through the digestive track, they actually undergo a type of wet processing due to acidification in the stomach and fermentation due to the natural intestinal microflora."

”The exceptional Kopi Luwak flavor could be due to the type of wet process the beans undergo in the luwak’s digestive tracks," he said.

On the last trip to Indonesia, Marcone was stationed in Padang (West Sumatra) but the plantation he visited was in Northern Sumatra.

He met few people including the owner of the plantation who has collected over seventy kilos of the beans for this year, and he actually also enjoyed collecting his own Kopi Luwak.

If the plantation owner he met was the same person who dealt with the US specialty coffee importer LJ Cooper Co., it must be a very good news for the company that the beans are finally about to ship in.

It is obvious that neither Cooper nor Marcone revealed the detail contact of the plantation owner with me or anybody, not even shared the exact place where the luwak's beans were found.

It is understandable since confidentiality is what matter most, considering exploitation of Luwak may occur if the name and place are disclosed.

How the luwaks eat the reddest ripest cherry and the time when they relieve themselves are very natural process. People who has a big obsession to make money out of it may jeopardize that process. They may start to breed the luwaks which has been avoided from the beginning. If this happens, no more exclusivity.

Marcone brought home some of the beans for additional research, "I will possibly publish another paper especially should there are any new findings but it will surely take time and need more research dollar." ended Marcone. (*written by vera makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)