Saturday, January 29, 2011

Berkah Kopi dari Lombok



Awal Januari lalu saya bersama kedua anak saya dan pengasuhnya berkunjung ke Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang kami dirikan bekerjasama dengan sekolah PAUD (pendidikan anak usia dini) setempat. Berbeda dengan tahun lalu, kali ini memang si kecil, 4 tahun, saya ajak juga untuk melihat teman-temannya di pelosok desa Lombok Timur, agar ia tahu kehidupan dengan warna berbeda dari yang sehari-hari ia lihat di Jakarta.

Aktivitas pagi itu cukup padat, kami memulai perjalanan pukul 7 pagi, mengingat lokasi 4 buah TBAL tersebut terletak di wilayah terpencil Lombok. Bu Mukanah, pembina TBAL sudah siap tepat waktu di hotel dan kita pun sarapan di mobil. Sayangnya, saya tidak sempat ngopi. Hiks...

Di lokasi pertama, kami senang sekali karena anak-anak telah berkumpul di gelaran teras depan kelasnya (sebenarnya ini ruang tamu pemilik rumah yang disulap menjadi ruang belajar setiap pagi). Anak-anak terlihat asyik membaca buku dan saya sempatkan untuk membacakan satu buku untuk mereka, mengenai cara berpakaian yang baik.

Di awal pembukaan, saya bertanya, “Siapa yang sudah sarapannnn???”. Beberapa tunjuk tangan, beberapa terlihat hanya menatapi saya, beberapa geleng-geleng kepala. Saya sempat terhenyak melihat mereka yang geleng-geleng kepala, khawatir mereka tidak sempat makan bukan karena tidak berkenan (seperti anak-anak saya yang susah sarapan), namun karena tidak ada makanan yang dapat disajikan ibunya di meja makan. Beberapa detik kemudian saya langsung mengalihkan perhatian, saya pikir, kehadiran saya harus membawa keceriaan kepada anak-anak. “Untuk yang sudah sarapan, hayooo... makan apa tadi pagi?”. Anak yang lucu itu pun sanggup mengundang tawa seluruh ruangan, “Ikan Paus!!!!”. Hahaha....

Setelah selesai, kami pun beranjak menuju lokasi PAUD selanjutnya. Senangnya saya karena berbagai poster Taman Bacaan Anak Lebah bertuliskan pesan-pesan singkat seperti, “Membaca itu Menyenangkan”, “Buku Membuat Kita Pintar”, dan spanduk “Selamat Datang di Taman Bacaan Anak Lebah” yang saya kirim sebelumnya, telah terpampang rapi.

Di lokasi ketiga yang terletak di pinggir sawah luas nan hijau, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Di sana kami mengadakan pertemuan dengan para tutor dan pembina PAUD untuk berdiskusi mengenai perkembangan taman baca. Di akhir sesi saya memberikan tips singkat bagaimana menata buku-buku dan mainan donasi di lemari agar terlihat rapi dan menarik bagi anak-anak.

Kami beranjak sekitar pukul 13.00, saatnya makan siang! Namun anak-anak belum lapar karena sudah ngemil, saya dan bu Mukanah pun juga ingin segera ke lokasi taman bacaan terakhir untuk menghemat waktu. Niat saya untuk mencari kopi tertunda lagi, padahal sudah ingin sekali menikmati kopi panas yang seharusnya saya minum pagi tadi.

Akhirnya pukul 2 siang kami tiba di lokasi terakhir. Tempatnya di gang, mobil tidak dapat masuk. Kami pun menyusuri jalan setapak yang kemudian di tengahnya dekat mesjid terdapat semacam pendopo sederhana yang dijadikan taman bacaan. Angin semilir yang masuk ke pendopo, ditambah dengan ubin yang sejuk membuat kami betah lesehan di lokasi tersebut.

Yang dahsyat, di saat sedang berinteraksi dengan para tutor, datanglah rezeki secangkir kopi tubruk panas yang luar biasa nikmat. Panasnya pas, manisnya pas, kekentalannya pas!!! *senyum lebaaarrrrr*. Ternyata berkah kopi hadir di saat saya tidak mengharapkannya. What a nice surprise, Alhamdulillah (thanks to bu Mariana, mitra saya pemilik PAUD Melati).


(*written by Vera Makki* - http://kopiluwakstory.blogspot.com)