Wednesday, January 20, 2010

From New Orleans with Love

Selamat Tahun Baru! Ih... udah tanggal berapa ini? kok baru tahun baruan sekarang? :) saya baru sadar terakhir mereview kopi di bulan September lalu, sehingga perkenankan saya mengucapkan selamat tahun baru untuk para pecinta kopi melalui site ini.

Akhir pekan lalu saya 'girls nite out' dengan puteri saya, 6 tahun, berdua saja. Kita ke Blitz Teraskota dan nonton 'The Princess and the frog'. Film ini pas kita tonton berdua karena setting film ini mengantarkan saya ke lima tahun silam saat liburan ke New Orleans, LA - dimana saat itu puteri saya berusia hampir 1 tahun. We had a wonderful memory towards this city, especially for its one of a kind coffee.

New Orleans terkenal dengan kopinya yang luar biasa enak: Cafe Au Lait. Tempat nongkrong yang terkenal di sana adalah Cafe du Monde (http://www.cafedumonde.com/coffee.html). Walau punya beberapa outlet, tempat yang paling oke adalah yang terletak di Decatur Street, French Market. Di tempat yang tak pernah sepi ini, kita dapat melihat pejalan kaki lalu lalang dan menikmati alunan jazz gratis a la Louis Armstrong yang dimainkan oleh seniman di pinggir taman. Dari tempat terbuka ini, kita juga dapat merasakan suasana di masa kolonial melalui arsitektur gedung-gedung cantik perpaduan gaya Spanyol dan Perancis.

Cafe Au Lait, walaupun namanya telah dipakai oleh beberapa coffee shop di Indonesia, namun rasanya belum ada yang sanggup menyamai kopi ini (jangan salahkan saya kalau saat mencoba Cafe Au Lait di beberapa tempat di Jakarta, saya masih menyebutnya 'kopi abal-abal'). Instruksi pembuatan kopi ini sesungguhnya gampang banget: 1/2 kopi panas + 1/2 susu panas. Tapiii... kok udah dicoba gak ada yang bisa nyamain rasanya ya... pasti ada additional secret ingredients deh (and I know what it is!)

Cafe Au Lait (baca: o le) terbuat dari kopi hitam (dark roasted) asal Perancis dan Chicory, yaitu akar tanaman endive semacam lettuce. Akar ini dibakar dan digiling, untuk kemudian dicampur bersama kopi hitam untuk menambah kekentalan dan rasa pada kopi, sehingga tidak terlalu pahit dan encer.

Nah pasangan Cafe Au Lait yang pas adalah beignet (baca: be nye) yaitu semacam donat namun berbentuk persegi empat yang digoreng panas hingga mengembang dan setelahnya ditaburi gula bubuk (powdered sugar) di atasnya. Satu piring berisi tiga buah. Rasanya yummy bangetttt!!!

Nah yang seru nih, sepulang dari New Orleans, saya pun bekerja part time sebagai manager Cafe khas New Orleans yang menyajikan Cafe Au Lait di Houston, TX saat saya sekolah di sana. Lumayan, sehari dapat US$75 + tips + Cafe Au Lait dan beignet gratisan ... sesekali saya pun yang harus mengolah kopi tersebut dan bahkan menggoreng beignet. Jadi tau nih rahasianya...

Nonton 'The Princess and the frog', selain ceritanya lucu, pikiran saya pun melayang kembali ke masa-masa indah tersebut. Jadi kangen banget sama Cafe Au Lait nya, apalagi beignetnya (ini sedap banget loh dimakan saat musim hujan seperti sekarang ini). Sayangnya... bahan-bahan dasar pembuat beignet dan kopi ini gak ada di Indonesia. Jadi susah bereksperimen. Sudah pernah coba, yang ada, rasanya seperti kue bantal. Hahaha... (*written by vera makki - http://kopiluwakstory.blogspot.com/)




1 comment:

  1. Literally, cafe=kopi, lait=susu (french to indonesian translated). Jadi cafe au lait versi indonesia ya kopi susu cap warkop sudi mampir itu :D

    ReplyDelete